Senin, 02 Juli 2012

RISAU

Setiap kali menengadah pada bintang-bintang di langit malam, aku
selalumelihat kita di masa lalu. Kita adalah kelap-kelip itu.Rasanya sudah lama sekali sejak kita bertemu untuk yang pertama kali. Akuhampir lupa seberapa sering kita bicara hingga dini hari. Atau diam saja memandangi hujan sampai bosan. Dan aku sungguh-sungguh lupa kapanterakhir kali kita tertawa bersama. Kapan terakhir kali kita menangis berdua. Aku tidak sukaini. Kenyataan bahwa aku mulai melupakan banyak hal tentangkita.
Detail-detail kecil yang menurutku penting.“Mungkin kamu akan melupakan mereka yang pernah tertawa bersamamu,tetapi kamu tidak akan pernah bisa melupakan mereka yang pernah menangis bersamamu,”

 Ya, aku tidak melupakanmu. Belum. Meskipun aku ingin. Meskipun aku mau. Karena alangkah lebih baiknya jika begitu. Aku tak perlu mengingat betapa kitamemutuskan untuk menempuh jalan yang berbeda sama sekali. Sendiri-sendiri.Meninggalkan apa yang pernah kita miliki tanpa pernah memutuskan apakah kita akan kembali, atau apakah kita akan bertemu lagi suatu saat nanti.
Malam ini, ketika
aku menengadah memandangi bintang-bintang di langitmalam, aku melihat kita
di masa lalu. Kita adalah kelap-kelip itu.Di mana kamu berada saat ini?
Di mana kamu berada saat ini?
Apakah kamu juga tengah memandangi langitmalam ini; langit yang biasa kita
bagi bersama? Katakan, apa yang kamu lihatketika kamu memandangi
bintang-bintang? Apakah kamu masih melihat aku dan kamu di masa lalu?
 Ataukah… kamu hanya melihat bintang-bintang?
Aku kesepian. Tanpa kamu seperti ribuan bola lampu yang terlaluterang. Menyakitkan untuk dipandang. Sakit yang familiar. Seperti jugasengatan di hatiku ketika kita berpisah. Ketika kamu memutuskan untuk memilihnya  prinsip itu?
Cangkir kopiku yang ketiga. Dan satu-satunya hal yang berkecamuk dalam benakku hanyalah: untuk apa aku di sini? dikota sendiri ?
Lalu aku  kembali melakukan terapi, menekan nekan bola mataku dan mengadahkan pandanganku ke atas, supaya air mata ini tidak jatuh.

Kota Sendiri


"Disini dikota yang sendiri, kota yang penuh kesendirian, meski penuh keramaian, #solo,"
 Ya aku menuliskan ini di twitter ku, aku benar benar kesepian, pilihanku menemani kota sendiri ini membuatku merasa benar benar sendiri, aku berlari kemari dengan ribuan kesedihan, dan kekecewaan yang membanjiri hatiku.
Saat ini apa yang kamu rasakan ketika kita jauh ? apa kamu berharap aku datang kembali padamu? ataukah itu sama sekali tidak mengusik segala kehidupan mu disana ? ya, kamu pasti baik baik saja, aku bukan alasan yang kuat untuk menjadikan dirimu lemah.
Semua yang aku lihat dan aku pandangi tidak menarik lagi, segala ketertarikan itu hanya tertuju padamu, bukan lagi pada sejuk nya kota solo ataupun langit langit vanilla disini, aku lelah tak tau arah kemana, karena segalanya telah terbiasa tertuju padamu.
Aku sakit dan lebih terasa sakitnya ketika aku disini, ya, aku disini karenamu karena apapun alasanya kamu harus diperjuangkan, bersamamu harus aku perjuangkan, tidak ada alasan untuk tidak memperjuangkan mu...,